"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya".(QS : 2 : 275)

Komentar

Suka Situs Ini...?

www.radiorisalah.com

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini :4
mod_vvisit_counterKemarin :225
mod_vvisit_counterMinggu ini :1172
mod_vvisit_counterMinggu Lalu :1617
mod_vvisit_counterBulan ini :5384
mod_vvisit_counterBulan Lalu5709
mod_vvisit_counterSemua :522989

Sedang Online: 2
IP Anda : 67.202.4.225
,
Today: Apr 25, 2014

Artikel dibaca

Content View Hits : 858515



Informasi & Registrasi : SMS : 0813-21204471 - 081-802003336 - Pin BB : 21A16470

User Rating: / 52
PoorBest 
Tentunya, kita semua sudah tahu bahwa tujuan pernikahan itu adalah sebagai salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Keutamaan sebuah pernikahan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dapat menyelamatkan separuh dari agama seseorang. Tetapi, masih banyak memang, ibadah dalam konteks sebuah pernikahan hanya pada saat ritual akad nikah saja, sedangkan ketika dalam menjalani kehidupan rumah tangga, nilai-nilai ibadahnya sering terlupakan.

Hal ini memang sangat wajar, karena salah satu hal yang paling disenangi dari pada berbagai godaan maksiat yang dilakukan oleh manusia adalah menceraikan / memisahkan suami dari istrinya. Jadi dalam kehidupan rumah tangga, seorang muslim sangat harus senantiasa berdzikir agar syaitan tidak menguasai mereka dan terjadilah perpecahan dalam kehidupan rumah tangga. Hal ini sebagaimana dinyatakan melalui ayat ;
"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi". (58:19)


Setidaknya melalui kedua dasar diatas, bisa kita simpulkan bahwa, mempertahankan pernikahan adalah satu hal yang perlu dilakukan dengan berbagai upaya, terutama dalam konteks beribadah kepada Allah.

Tetapi, sebagaimana tujuan utama dari pernikahan adalah ibadah, maka ketika nilai ibadah itu sudah dirasakan tidak akan terjadi, maka ulama berpendapat melalui hal ini seseorang (baik suami maupun istri) boleh membatalkan (bercerai) dari pernikahan tersebut.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam konteks ini adalah ;

1.Pembatalan pernikahan karena salah satu pasangan berbeda aqidah.
Untuk lebih jauh memahami hal ini silakan lihat inspirasi " Bolehkah, menikah berbeda agama...?"


2.Ketika salah seorang pasangan berpindah agama (murtad). Hampir sama dengan hal diatas, tetapi lebih disandarkan kepada ayat "...jangan berpegang pada tali perkawinan dengan orang yang kafir" dan hadits " Orang yang bertemu dan berpisah karena Allah".

3. Karena Kedzholiman dari salah satu pasangan.
“Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata” [An-Nisa : 19]

Hal ini termasuk kewajiban suami dan istri yang di atur sesuai syariat yang tidak akan kita bahas lebih jauh dalam uraian ini.

4. Karena takut kufur (mengurangi nilai ibadah) hal ini sebagaimana  ;
“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” [Al-Baqarah : 229]

“Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]


Pada prinsipnya, pernikahan ini haruslah tetap menjadi satu nilai ibadah, dan bukan di dasari pada cinta semata-mata, atau tujuan tujuan tertentu, seperti harta, popularitas, jabatan, dll.


Nah, melalui beberapa dasar-dasar ini, ada beberapa hal yang bisa kita cermati ;

1. Jika masih memungkinkan, mempertahankan pernikahan itu lebih baik. Karena memberi maaf memang jauh lebih sulit, sehingga ada ungkapan yang mengatakan "Mengapa engkau tidak mau memberikan maaf ?, apakah engkau tidak ingin dosamu dimaafkan oleh Allah ?".

Pemberian maaf kepada salah satu pihak dalam konteks ini bisa bermakna : Memaklumi kesalahan dan tidak ada kecenderungan untuk membalas dendam, walaupun dalam konteks hubungan, bisa dilanjutkan maupun tidak tergantung dari pertimbangan ;
a. Apakah dengan melanjutkan hubungan, manfaat dan mudhorot (dilihat dari berbagai     aspek) dalam konteks ibadah akan semakin membaik, atau semakin memburuk. Jika     semakin membaik, sebaiknya dilanjutkan (anggap saja ini adalah satu ujian berat),tetapi jika dikawatirkan semakin memburuk maka perceraian adalah jalan yang terbaik.

2. Diperbolehkannya pihak wanita mengajukan gugatan cerai berdasarkan ayat dan hadits yang disampaikan di atas. Dengan catatan, bahwa perceraian yang dimaksud agar salah satu atau masing-masing dapat melaksanakan ibadah dengan lebih baik.

Sedangkan di tinjau dari kedudukan antara suami dan orang tua,
1. Ketika seorang wanita menikah, maka ia harus taat pada suami, sedangkan, orang tua wanita itu, harus pula diperlakukan oleh sang suami sama seperti orang tua sendiri, tidak ada pemisahan antara orang tua dan mertua. Demikian pula sebaliknya, bagi orang tua seorang suami / istri dari anaknya bukanlah jadi menantu, tetapi harus diperlakukan pula sebagaimana anak kandung mereka.

2. Perintah untuk berbuat baik pada orang tua adalah wajib, dan durhaka kepada orang tua adalah dosa terbesar setelah musyrik kepada Allah. Tetapi, hal yang perlu dicermati dalam konteks kepada orang tua disini adalah selama apa yang diperintahkan oleh orang tua itu tidak menyimpang dari aturan Allah. Jika ia memerintahkan sesuatu yang menyimpang dari aturan Allah dan Rasul-Nya, maka kita tidak wajib mengikutinya. Tetapi berbuat baik kepada mereka, walaupun, (katakanlah orang tua tidak seagama), harus tetap di lakukan sebatas tidak menyimpang dari aturan Allah.

Lalu pertanyaannya, mana yang harus di pilih oleh seorang istri, taat kepada orang tua, atau taat kepada suami...?

Bagi wanita, taat pada suami selama tidak bertentangan dengan syariat adalah hal yang utama, dari pada taat kepada orang tua kandungnya, karena tanggung jawab kepemimpinan sudah berada di tangan suami. Tetapi, suami harus taat kepada orang tua (baik orang tua kandung maupun mertua), sebagaimana tinjauan di atas.

Ketika suami berbuat zholim, maka istri tidak wajib taat kepada suami, dan apabila kezholiman itu pada akhirnya akan berdampak pada penurunan nilai ibadah, maka perceraian adalah jalan yang terbaik. Bahkan ada sebagian ulama yang mewajibkan perceraian seseorang ketika dalam konteks menjalankan syariat sudah tidak memungkinkan (misalnya suami melarang istrinya menutup aurat (jilbab), melarang shalat, dll).

Memang selama ini timbul anggapan bahwa hanya pihak laki-laki saja yang dapat menceraikan istrinya..Melalui tulisan sederhana ini, mudah-mudahan kita bisa lebih memahami, bahwa Islam sangat menghargai dan melindungi wanita...Wallahu'alam.

Lainnya..

Spiritual for Business #3

(Empowering Spiritual Power for Entreupreneur)Komitmen sebagai modal utama Kita semua tahu, Thomas Alva Edison merupakan salah satu ilmuwan paling terkenal sebagai penemu lampu pijar. Padahal hanya tiga tahun dia belajar melalaui pendidikan formal, ...

Selengkapnya

Memandang Poligami

Pada zaman sebelum diturunkannya Al Qur’an, kaum wanita boleh dikatakan, hampir tidak memiliki kemuliaan, rujuklah pada sejarah kaum wanita terdahulu yang banyak ditulis dalam berbagai risalah. Salah satu penyebabnya, boleh jadi karena adanya pemikir...

Selengkapnya

Wanita dlm pandangan dunia

Risalah Wanita (Eps 5) “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pa...

Selengkapnya

Tentang Do'a (Bag 2)

Apakah do'a orang kafir di kabulkan...? "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?"(Q...

Selengkapnya

Tentang Musibah

Mensikapi bencana yang terjadi di Indonesia, melalui sudut pandang Al Quran Kata musibah dalam Al Quran berarti, sesuatu yang menimpa manusia, baik berupa hal yang positif maupun yang negatif. Tetapi, dalam perkembangannya, kata musibah itu lebih be...

Selengkapnya

Kenangan terindah..

Indahnya sebuah kenangan membuat kita mencoba untuk mengulangi lagi apa yang pernah kita lakukan....tersenyum, bergembira, bersedih dan berabgai hal lainnya ketika mengingat apa yang pernah kita rasakan... Ber-empati kepada sesama, melakukan sholat m...

Selengkapnya

Nasihat Rasulullah SAW bagi kaum wanita

Risalah Wanita (EPS 28) “Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. (HR. Bukhari dan Muslim) Surga dan n...

Selengkapnya

Melayani dengan hati

Pada 17 agustus tahun 1945, para pemimpin negara dengan berani mengumumkan proklamasi yang menjadikan bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka di hadapan seluruh bangsa di dunia. Hari itu merupakan saat yang sangat penting, melalui foto-foto ...

Selengkapnya

Hidup Adalah Ujian

Sekelompok Malaikat ditugaskan mengangkat Arsy, ternyata mereka tak mampu melakukannya, sampai Allah mengajarkan kalimat : ALLOHU AKBAR..!!! Dan langit pun terangkat oleh para Malaikat…!!! Maka serulah ALLOHU AKBAR, agar kita kuat menanggung beban ke...

Selengkapnya

Melupakan seseorang...

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat FB, tentang, “Bagaimana cara melupakan seseorang agar dirinya menjadi tenang”. Ada dua hal yang ingin saya garis bawahi ; Yang pertama, sebagaimana ayat ;"(yaitu) orang-orang yang beriman ...

Selengkapnya

Menyikapi Musibah

Menyikapi Musibah Oleh: K.H. Athian Ali M. Da’i, MA Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan yang terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang ti...

Selengkapnya

Pentingnya Proses

Empowering Spiritual Power Dalam ayat : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demi...

Selengkapnya

Ilmu dan Iman

Risalah Wanita (EPS 7) Tentunya, kita pernah mendengar, bagaimana perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak wanita..Salah satu perjuangan yang Beliau anggap penting adalah mendirikan sekolah bagi kaum wanita.Karena pada waktu itu, salah satu pe...

Selengkapnya

Orientasi hidup manusia

Waktu adalah sesuatu yang mengantarkan manusia, dan dengan waktu, setidaknya manusia selalu dihadapkan pada TUJUAN, dan untuk mencapai tujuan, manusia perlu memerlukan CARA, dan CARA adalah berasal dari ATURAN, yang kemudian keduanya adalah JALAN unt...

Selengkapnya

Al Quran dan Wanita

Risalah Wanita (Eps 1) : Ada mitos yang beredar di kalangan masyarakat dahulu yang sangat erat kaitannya dengan diturunkannya Nabi Adam Dan Siti Hawa untuk menjadi khalifah di bumi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, karena kedengkian Iblis ke...

Selengkapnya

Tentang Amal

Risalah Wanita (Eps 9) Dalam ilustrasi lilin pada episode yang lalu, sebagai orang yang percaya bahwa api yang menyala pada lilin itu panas, maka dirinya tidak akan pernah membiarkan tangannya berada di atas api tersebut. Berbeda dengan seorang anak...

Selengkapnya

Taubat dan cobaan ..

Mencoba sharing sesuai dengan pertanyaan salah satu sahabat di forum majelis ta’lim Al Ashr di FB, tentang, “Mengapa jika kita hendak bertaubat, banyak sekali cobaan yang kita hadapi”. Marilah kita mulai dulu dari pengertian kata taubat. Taubat berm...

Selengkapnya

Empowering 7 Training

Alhamdulillah pelatihan reguler pada tanggal 25/06/2011 telah selesai dilaksanakan... Kami mengucapkan terima kasih kepada peserta yang telah bersedia mengikuti Empowering Spiritual Power.. Semoga apa yang disampaikan dapat memberikan manfaat bagi ki...

Selengkapnya

Ucapan dan tindakan

Perkataan dan perbuatan adalah  dua hal yang berbeda, dan keduanya merupakan juga hal yang penting untuk diperhatikan.  Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat : “Wahai orang-orang beriman, mengapa engkau mengatakan apa yang  tidak engkau laku...

Selengkapnya

Shalat dan kebiasaan positif

Seorang filusofi terkenal dari yunani, aristoteles pernah berkata ; “ Kita saat ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan berulang kali dan keunggulan tidak akan di peroleh hanya dari sekedar tindakan, tetapi keunggulan terjadi karena kebiasaan”. ...

Selengkapnya

Transformasi Pribadi Muslim

Bab 1. Pendahuluan18-Mar-09 Transformasi Pribadi Muslim “Allah berfirman: Dan tiada suatu yang lebih Ku-sukaiDaripada pendekatan hamba-Ku kepada-Ku.Dengan menjalankan apa yang Aku wajibkan kepadanya.Disamping itu selama ...

Selengkapnya

Rahasia dan resep kecantikan Audrey Hepb

Risalah Wanita (EPS 21) Rahasia kecantikan Audrey Hepburn Seorang bintang film amerika terkenal Audrey Hepburn ketika diminta untuk menjelaskan resep kecantikan wanita, ia memberikan jawaban yang luar biasa :

Selengkapnya

Dekadensi Moral

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebenci...

Selengkapnya

Bolehkah menikah beda agama...?

Jika kita perhatikan, 'hidup bersama' atau 'kumpul kebo' pada prakteknya 'hampir tidak ada bedanya' dengan pasangan suami-istri yang sudah menikah. Hubungan secara manusia dalam konteks 'hidup bersama tanpa sebuah pernikahan' tentunya didasari oleh '...

Selengkapnya

More in: Inspirasi

-
+
9

Video Jalan Inspirasi..